Ada kesamaan motif yang mendasari pembangkangan setan, kekufuran Yahudi, dan tindak krimnal yang dilakukan putra Adam, Qobil, serta saudara-saudara Yusuf. Dengki ibarat kekuatan gelap yang membutakan mata, hati, membuat tuli dan mati rasa. Lalu menyeret dan menenggelamkan jiwa ke dalam palung kejahatan sedalam-dalamnya.
Kejahatan paling ‘ringan’ akibat dengki ada dalam kisah Yusuf AS dan saurada-saudaranya. Rasa dengki hamper saja mengubah saudara-saudara Yusu menjadi pembunuh. Bi Qadarillah ide membunuh saudara kecil yang sangat disayang sang Ayah, Nabi Ya’qub urung dijalankan.
“Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia di suatu daerah (yang tak dikenal)supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik”. (Yusuf:9)
Tapi alternative kedua juga bukan tinda kejahatan yang ringan. Melemparkan seorang adik kecil ke dalam sumur di pinggiran hutan. Bukanlah ini sama saja dengan membunuh secara perlahan-lahan didalam sumur. Walaupun akhirnya Yusuf diselamatkan, tapi saat dicemplungkan kedalam suur, tak satupun tahu bahwa ada rombongan yang akan menyelamatkannya.
Rasa dengki hanya gara-gara merasa kehilangan perhatian ayah mampu membutakan hati saudara-saudara Yusuf hingga tega melakukan perbuatan kejam terhadap saudaranya.
Kisah kedua, ada dalam kisah Habil dan Qabil, dua putra Nabi Adam. Sesuai dengan beberapa riwayatpada mufassir, awal mula penyebab kedengkian Qabil terhadap Habil bukanlah diterimanya ibadah Habil, tetapi soal wanita. Qabil menginginkan menikah dengan saudari kembarnya sendiri, bukan dengan saudara kembarnya Habil sebagaimana perintah sang Ayah, Nabi Adam. Tapi Qabil harus menerima karena saar berkurban, kurban Qabil ditolak. Artinya ia harus menerima keputusan ayahnya.
Saat itulah penyakit dengki muncul. Qabil mengancam akan membunuh Habil. Ancaman itu ditanggapi datar oleh Habil yang hanya menasehatinya bahwa jika Qabil membunuhnya ia akan menjadi penghuni neraka. Namun rasa dengki telah membuat telinga Qabil tuli. Qabil pun menumpahkan kedengkiannya dengan membunuh saudaranya satu-satunya saat itu. Dan tindak criminal pembunuhan pertama ini diabadikan kisahnya dalam Al Qur’an.
“ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Nabi Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhnya!”. Berkata Habil:”Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al Maidah: 27)
Kisah ketiga, kedengkian kaum yahudi terhadap Rasulullah. Seperti di sebutkan dalam al Quran surat Al Baqarah : 89. Sebelum di utusnya Nabi Muhammad SAW, kaum yahudi Madinah sering berdebat dengan penyembah berhala. Waktu itu, posisi penyembah berhala, tepatnya suku Aus dan Khazraj lebih kuat dan berkuasa daripada Yahudi. Kaum Yahudi yang mengetahui bahwa aka nada Rasul yang diutus, sering mengatakan kepada para penyembah berhala, kelak mereka akan mengalahkan penyembah berhala bersama sang Rasul. Mereka aka memerangi para penyembah berhala dan mendapa kemenangan yang besar seperti tertulis dalam kitab mereka.
Muhammad pun diangkat menjadi Rasul. Semua karakter dan tanda kenabian yang ada dalam kitab Yahudi cocok dengan beliau. Kaum Yahudi tak bisa menerima kenyataan, mengapa Rasul yang diutus bukan dari kaum Yahudi? Kedengkian kian memuncak manakala mengetahui bahwa suku Aus dan Khazraj justru menjadi golongan yang pertama kali menyamut kedatangan dan dakwah Beliau. Mereka pun menutup hati mereka dan enggan beriman.
Dengki menyebabkan kekufuran. Ini jauh lebih berbahaya daripada sekedar hilangnya nyawa. Meskipun membunuh merupakan dosa besar, tapi masih jauh lebih kecil dosanya dibandingkan kekufuran.
Yang paling mengerikan adalah apabila kedengkian menjangkit makhluk Allah yang kuat. Pelampiasannya bisa sangat dahsyat karena kekuatan yang dimilikinya. Bukan lain ini adalah kedengkian yang menjangkit iblis terhadap Adam da anak cucunya.
Teguran dari Allah yang dibantah oleh Iblis dengan logika “api lebih mulia dari tanah” mengakibatkan murka sang Pencipta. Tak seharusnya sesosok makhluk golongan jin membantah perintah Dzat yang Maha Mengetahui dengan logika tak mendasar. Memangnya siapa yang menetapkan bahwa api lebih mula dari tanah? Ibispun di usir.
Dengki mulai berakar dan menggelapkan iblis. Ia pun berjanji akan mencelakakan anak Adam. Tak sekedar menyaiti atau menghilangkan nyawa. Iblis berjanji untuk menyeret anak-anak Adam “menikmati” bagaimana rasanya dilaknat dan diadzab di dalam neraka, tempat kembali iblis di akhirat.
Kedengkian abadi yang tak akan pernah padam sampai akherat. Kedengkian dan kebencian yang membuat iblis mati-matian mengerahkan segala cara untuk menyesatkan manusia dan mengubah mereka menjadi makhluk-makhluk yang layak mendapatkan laknat, adzah dan hukuman dari Allah. Dan inilah puncak dari segala kedengkian.
Begitulah dalam kehidupan manusia, dengki mampu mengubah manusia dari baik menjadi jahat, teman bisa menjadi lawan, saudara pun bisa menjadi musuh bebuyutan, kekasih bisa menjadi ancaman. Semoga Allah selalu membersihkan hati kita dari dengki dengan sebersih-bersihnya.. Amiin..