Rasulullah saw. Bersabda:
“Akan datang pada umatku suatu masa, meraka mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara, mereka mencintai kedudukan dan melupakan kubur, mereka mencintai harta dan melupakan hisab, mereka mencintai dunia dan melupakan akhirat, mereka mencintai hidup dan melupakan mati, merka mencintai maksiat atau dosa dan melupakan tobat. (H.R Tirmidzi).”
Hadits di atas menunjukan prediksi (ramalan)nabi Muhammad saw, terhadap sifat yang akan di hadapi umat Islam terhadap lima perkara yang meneyebabkan mereka lupa terhadap lima perkara yang lain:
Pertama,merekamencintai kedudukan tetapi lupa terhadap kubur (yuhibbuunal qusuura wa yansuunal qubuura).
Hidup ini memang penuh dengan berbagai godaan, pesona, dan rayuan. Rentang sejarah telah mengajarkan, karena pesona kekuasaan, jabatan dan kemewahan didunia ini yang serba canggih, seorang bisa saja durjanah, koruptor dan sewenag – wenang melakukan apa yang diinginkannya sehingga ia lupa terhadap apa yang sebenarnya tempat ia dikembalikan.
Dengan kekuasaan atau kedudukan yang dia peroleh orang bisa saja menjadi munafik dan peneyebar fitnah, sehingga menjadi permusuhan di tengah – tengah masyarakat, sebab yang mereka kejar adalah populeritas dan ketenaran semata.
Akibat kekuasaan (mabuk harta) seseorang, dapat saja melakukan persekongkolan atau kerjasama dalam kebathilan dengan kolega dan mitranya dalam menhisap darah kaum yang lemah; Dengan pesona kekuasaan (kedudukan) orang menjadi tebal muka, hilang rasa malu, sehingga hidupnya tak ubah seperti alhayawan atau hewan yang berkeliaran.
Demi meraih kedudukan atau kekuasaan orang cendrung lupa diri, apabila tidak mempunyai iman yang kokoh dan dilandasi niat yang baik.
Bahkan, dengan kedudukan tersebut manusia banyak yang menyibukan diri dan bermegah – megah dimuka bumi ini, mereka lalai dan lupa bahwa kedudukan merupakan amanah dari Allah swt.
Allah swt, berfirman dalam surat At-Takaatsur 1-8:
1. Bermegah-megahan Telah melalaikan kamu[1598],
2. Sampai kamu masuk ke dalam kubur.
3. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
4. Dan janganlah begitu, kelak kamu akan Mengetahui.
5. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
6. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
7. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin[1599].
8. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).
Maksudnya: Bermegah-megahan dalam soal banyak harta, pengikut, kemuliaan sehingga dapat melalaikan orang dari ketaatan kepada Allah SWT.
Sebagai upaya mengendalikan ambisi keduniaanya (kekuasaanya), manusia di anjurkan untuk untuk berziarah kubur. Sebab menurut para ulama ziarah kubur merupakan obat yang manjur sebagai orang – orang yang berhati keras. Karena ziarah kubur akan mengingatkan manusia pada kematian dan kehidupan di akhirat.
Rasulullah Saw bersabda:
“Sebelum ini, aku melarang kalian berziarah kekubur. Sekarang kalian berziarahlah. Sebab ziarah kubur itu akan menanamkan rasa zuhud terhadap duniawi, dan mengingatkan kalian kepada kepentingan akhirat.(terjmhn Tafsir Al maraghi juz 30 hal.385)
Kedua, mereka mencintai harta tetapi melupakan hisab (perhitungan amal) (yuhibbunal maal wayansuunal hisaab).
Banyak manusia mengira bahwa pangkal kebahagiaan adalah memiliki harta yang banyak. Kalau tdak berharta, maka tidak akan memperoleh kebahagiaan.
Tentu anggapan ini keliru, tidak di akui oleh agama, oleh akal yang sempurna dan ilmu yang benar. Bahkan, oleh panca indrapun tak diakui. Sebab, banyak disaksikan, semakin banyak harta malah bertambah jauh dari keinsafan, bahkan cenderung bertambah sombong. Kerap kali manusia di perdayakan oleh harta. Dengan harta, segala jalan dilaluinya; segala cara ditempuhnya, walupakan dengan cara – cara yang haram dan tidak jujur.
Untuk itu, kita harus pandai – pandai mendudukan harta pada fungsinya yang proposional sesuai dengan tuntunan agama. Harta merupakan alat untuk mencapai cita – cita. Harta adalah mahal (berharga) tetapi tidak lebih mahal dari pada kehormatan diri, kemuliaan agama, keridhaan Allah, dan keleluhuran budi pekarti. Harta untuk mengangkat derajat seseorang , bukan derajat yang mengangkat harta.
Ingatlah, semua harta yamg kita miliki, semuanya akan diminta pertanggungjawaban dihadapan Allah Azza wajalla, dari mana ia peroleh dan untuk apa harta itu dipergunakan.
Ketiga,Mereka mencintai dunia tetapi melupakan Akhirat, (yuhibbunal dunia wayansuunal akhirah).
Menurut sebagaian ulama, orang yang hidup didunia ini terbagi tiga kelompok:
1. Orang – orang yang lebih memntingkan tujuan akhirat dari kehidupan di dunianya, orang ini mungkin memporoleh kemenangan di akirat,
2. Orang – orang yang lebih mementingkan kehidupan dunianya saja, dari pada kehidupan di akhirat, itulah orang – orang yang binasa.
3. Orang – orang yang mementingkan kedua – duanya, kehidupan dunianya dijadikanya sebagai tangga untuk mencapai kehidupan akhirat. Orang yang ketiga inilah menempuh jalan yang paling sulit dan berbahagia.
Jika ia menang, lebih besar kemenangannya dari pada golongan yang pertama. Orang yang seperti inilah disebut pejuang.
Menurut filsafat hidup, kemenangan tidak dapat diraih tanpa perjuangan. Dan perjuangan itu dengan dua alat yaitu harta dan jiwa raga.
Allah Swt, Berfirman;
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?(10)
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui(11( .(Q.S.Ash Shaff: 10-11)
Sesungguhnya jika manusia meyakini akan adanya hari akhir setelah kehidupan dunia ini, tentunya manusia tidak akan menyia – nyiakan hidupnya untuk hal – hal yang kurang ada manfaatnya.
Keempat,mereka cintai hidup tetapi lupa pada kematian.(Yuhibbuunal hayaa wayansuunal mauut).
Hidup memang indah dan nikmat. Karena nikmatnya itu, tidak sedikit orang tenggelam didalamnya seolah – olah akan hidup selama – lamanya di dunia ini. Dan seringkali manusia lupa pada tujuan hidup yang sebenarnya yaitu mengabdi kepada allah Swt.
Disamping itu, karena betapa merasa kelezatan hidup, seringkali mereka alergi dan takut mendengar kata “mati”, bukan saja kata mati ditakuti, bahkan mati sesuatu hal yang dibenci.
Rasulullah Saw bersabda:
“ Dua macam yang di benci oleh manusia, manusia membeci mati, dan padahal mati lebih baik baginya dari pada menfitnah (hidup yang durhaka), dan manusia membeci sedikit harta dan padahal sedikit harta lebih menyedikitkan (meringankan) pemeriksaan (hisab).”( H.R. Ahmad dari Mahmud Ibn Labid).
Sebenarnya mati, bukanlah sesuatu hal yang perlu ditakuti sebab mati itu ialah kesempurnaan hidup, jika ketika hidupnya diisi dengan ketaatan dan ketundukan kepada Allah Swt. Dengan demikian, orang yang takut mati, berarti tidak mau menempuh kesempurnaan. Dan kesempurnaan manusia terdiri dari tiga poin yaitu: hidup, berpikir dan mati.
Dalam tafsir modern Prof Dr. Hamka, Rahib Al ashfahani berkata;” manusia dan kemanusiaan itu bukanlah sebagai kebanyakan persangkaan orang, yaitu hidupnya cara hidup hewan dan matinya cara kematian hewan pula. Berpikir dalam mahkluk itu hanya pada manusia saja. Kehidupan manusia adalah sebagai yang dinyatakan di dalam Al- qura’an:
“ Untuk memberi ingat kepada orang yang hidup” (Q.S Yasin:70)
Mati manusia lain dengan hewan. Mati manusia ialah mati syahwatnya, mati amarahnya, semua terikat oleh kehendak agama.
Kelima, Mereka gemar berbuat dosa tetapi lupa (lalai) bertobat.(yubbunal dzanba wayansuunal taubah).
Berbuat dosa berarti melakukan suatu perbuatan yang bertantangan dengan syari’at agama Islam. Sedangkan dosa adalah pelanggaran seorang yang beriman kepada yang memiliki peraturan, perintah, dan larangan dan yakin atas perbuatannya itu kelak ia akan di hukum.
Syarat untuk menghapuskan dosa ialah tobat. Mohon ampun dengan sebenar – benarnya dan tidak akan melakukan perbuatan yang pernah di lakukan kepada yang memerintahkan dan melarang yaitu Allah Azza wajalla. Dan secara aktif mengerjakan amalan kebaikan.
Allah Swt berfirman:
“Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang – orang yang beriman supaya kamu beruntung”.
Di syari’atkannya tobat dan dibukanya pintu tobat oleh Allah Azza wajalla adalah untuk menjamin lancarnya hidayah Allah Swt kepada manusia, untuk melindungi perbuatan salah yang terus menerus, untuk membuka pintu maaf dari lalai dan alpa atau dari nafsu yang suatu ketika menjadi lengah karena godaan maksiat.
Prof. Dr. M. Mutawalli Asy Sya’rawi, mengatakan, Seandainya manusia tidak diberi kesempatan untuk bertobat, entah apa jadinya dunia ini. Sekali manusia berbuat jahat, dia diberi hukuman oleh Allah dengan tidak diberi rahmat dan kasih sayang – Nya lagi, dan karena Allah Swt tahu persis bahwa tidak mungkin lagi baginya untuk menjadi manusia yang baik, bisa – bisa akan bertambah nekad, ia akan meningkatkan kejahatannya dan menjadi lebih beringas. Tentu saja perbuatannya itu akan membahayakan manusia lainnya. Ia akan mengajak sesama orang – orang yang melakukan perbuatan jahat dan akan secara tebuka melakukan kejahatan agar orang lain mengikutinya.
Allah Swt, senang kepada hamba-Nya yang mau bertobat dengan sesungguhnya atas perbuatanya dan tidak mengulangi lagi kesalahannya itu.
Marilah kita pergunakan kemurahan Allah Azza wajalla ini dengan memperbanyak istighfar atas segala dosa – dosa yang pernah kita lakukan, dengan rasa tunduk, patuh, dan khusyu’dalam permohonan kepada Allah Azza Wajalla, mudah – mudahan permohonan kitra di kabulkan oleh Allah Swt, seluruh dosa di ampuni dan senatiasa diberikan karunia , rahmat serta hidayah-Nya. Amien.(*)
Mencintai 5 perkara dan meninggalkan 5 perkara